A.
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Semua
anak, khususnya anak usia dini menampakkan kesenangan belajar dan bahkan mereka
ingin mempelajari banyak hal. Dorongan ingin tahu mereka yang sangat tinggi
dapat dilihat dari keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan dengan kemampuan
dan dorongan mereka untuk mengetahui sesuatu dan membuat sesuatu secara
kreatif. Mereka senang bermain boneka, pistol-pistolan dan berbagai macam alat
permainan lainnya yang mereka ciptakan melalui bahan alami seperti daun
singkong untuk membuat boneka wayang, dan dahan pisang untuk membuat
pistol-pistolan. Mereka cenderung meniru dan mencoba apa yang mereka lihat dan
ketahui. Mereka memiliki minat yang luas dan cita-cita yang banyak, walaupun
mereka belum menyadari bahwa untuk mengembangkan minat dan mencapai cita-cita
mereka memerlukan pengorbanan dan kerja keras.
Mereka
juga belum menyadari perlunya memiliki pengetahuan dan keterampilan serta
kepribadian yang sesuai dengan tuntutan keinginan mereka. Anak-anak sangat
menyenangi belajar, seperti yang kita ketahui bahwa sebenarnya anak-anak dapat
dan ingin belajar, dan lebih dari itu, mereka ingin belajar sebanyak-banyaknya
dan sesegera mungkin. Oleh karena itu, guru-guru diharapkan dapat memberikan
kesempatan kepada anak-anak untuk belajar kreatif sebanyak dan selekas mungkin.
Caranya adalah dengan membuat situasi belajar yang menarik dan sekreatif
mungkin sehingga anak-anak dapat memiliki keinginan untuk kreatif seperti yang
dilakukan oleh gurunya.
Kreativitas
dan bakat pada diri anak perlu dipupuk dan dikembangkan. Karena dengan
kreativitas dan bakat yang dimilikinya itu mereka dapat menjadi pribadi-pribadi
yang kreatif. Sebagai pribadi yang kreatif, kelak mereka bukan saja dapat
meningkatkan kualitas pribadinya, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas
kehidupan bangsa dan negara. Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan
kebutuhan pembangunan disegala bidang, yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan
keterampilan serta dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, mutu, dan
efisiensi kerja.
Perilaku
kreatif adalah hasil pemikiran kreatif. Karena itu sistem pendidikan hendaknya
dapat merangsang pemikiran, sikap, dan perilaku kreatif-produktif, di samping
pemikiran logis dan penalaran. Namun dalam kenyataannya masih sedikit sekolah
yang menyelenggarakan upaya pengembangan kreativitas dan bakat anak. Hal ini
disebabkan antara lain oleh masih sangat langkanya literatur yang membahas
secara menyeluruh dan terinci mengenai kreativitas, bakat, dan upaya-upaya
pengembangannya khususnya pada pendidikn anak usia dini.
2. RUMUSAN MASALAH
Dalam penulisan makalah ini kami
merumuskan beberapa masalah, antara lain:
1. Apakah
pengertian kreatif itu?
2. Apa
saja ciri-ciri kreatifitas?
3. Apa
saja faktor pendukung dan penghambat kreatifitas?
4. Bagaimanakah
perkembangan kreatifitas pada anak?
5. Apa
saja strategi dalam mengembangkan kreatifitas pada anak?
3. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Tujuan penulisan makalah ini antara
lain:
1. Untuk
mengetahui pengertian kreatif.
2. Untuk
mengetahui apa saja ciri-ciri kreatifitas.
3. Untuk
mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat kreatifitas.
4. Untuk
mengetahui bagaimanakah perkembangan kreatifitas pada anak.
5. Untuk
mengetahui apa saja strategi dalam mengembangkan kreatifitas pada anak.
B.PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN
KRETIFITAS
Secara
alamiah perkembangan anak berbeda-beda, baik dalam bakat, minat, jasmani,
kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan sosialnya. Selain itu,
setiap anak memiliki kemampuan tak terbatas dalam belajar, untuk dapat berfikir
kereatif dan produktif. (Ahmad Susanto, 2011 : 111) Kreativitas menurut kamus
besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar kreatif, yaitu memiliki
kemampuan untuk menciptakan sesuatu. (Trisno Yuwono, 2003 : 330) Menurut Munandar yang dikutip oleh
Syafaruddin dan Herdianto, kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi
baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas juga
diartikan dengan kemampuan yang berdasarkan data atau informasi yang menemukan
banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana pendekatannya adalah
pada kuantitas dan keragaman jawaban.
Secara
operasional, kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan
kelancaran keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berfikir, serta
kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu
gagasan. (Syafaruddin dan Herdianto, 2011 : 87) Salah satu konsep yang amat
penting dalam bidang kreativitas adalah hubungan antara kreativitas dan
aktualisasi diri. Menurut psikolog humanistik, Abraham Maslow dan Carl Rogers
dikutip oleh Utami Munandar menyatakan bahwa seseorang dikatakan
mengaktualisasikan dirinya apabila seseorang menggunakan semua bakat dan
talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi, mengaktualisasikan, atau
mewujudkan potensinya. Menurut Maslow aktualisasi diri merupakan karakteristik
yang fundamental, suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat
dilahirkan, akan tetapi sering hilang, terhambat atau terpendam dalam proses
pembudayaan. Jadi sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk
mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi
matang. (Utami Munandar, 1999 : 19)
Menurut
Harris seperti dikutip oleh Hamdani mengemukakan bahwa kreativitas dapat
ditinjau dari (3) hal, yaitu :
a) Kerativitas
adalah suatu kemampuan, yaitu kemampuan untuk membayangkan atau menciptakan
sesuatu yang baru, kemampuan untuk membangun ide-ide baru dengan
mengombinasikan, mengubah, menerapkan ulang ide-ide yang sudah ada;
b) Kreativitas
adalah suatu sikap, yaitu kemauan untuk menerima perubahan dan pembaharuan,
bermain dengan ide dan memiliki fleksibilitas dalam pandangan;
c) Kreativitas
adalah suatu proses, yaitu proses bekerja keras dan terus menerus sedikit demi
sedikit untuk membuat perubahan dan perbaikan terhadap pekerjaan yang
dilakukan. (Hamdani, 2002 : 2)
Secara
umum kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berfikir tentang
sesuatu dengan suatu cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan
penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan. (Semiawan, 1999: 89) Dari
beberapa defenisi oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah
suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda dari
sebelumnya, baik berupa gagasan atau karya nyata dengan menggabung-gabungkan
unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Hal baru disini adalah sesuatu yang
belum diketahui olehnya, meskipun hal itu merupakan hal yang tidak asing lagi
bagi orang lain, dan bukan hanya dari yang tidak menjadi ada, tetapi juga
kombinasi baru dari sesuatu yang sudah ada.
Pada
umumnya kreativitas dirumuskan dalam beberapa istilah, yaitu :
-
Pribadi (person), yaitu kreativitas
mengacu kepada kemampuan yang merupakan cirri/karakteristik dari orang-orang
kreatif. Maksudnya, kreativitas merupakan ungkapan unik dari seluruh pribadi
sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap, dan perilakunya;
-
Proses (process), yaitu kreativitas
merupakan proses yang mencerminkan kelancaran dalam berfikir;
-
Pendorong (press), yaitu inisiatif
seseorang yang tercermin melalui kemampuannya untuk melepaskan diri dari urutan
pikiran yang biasa;
-
Produk, (product), yaitu kemampuan untuk
menghasilkan sesuatu yang baru. (Ahmad Susanto, 2011 : 112-113)
2.
CIRI-CIRI
KREATIFITAS
Biasanya
anak yang kreatif selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai
kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup
mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko
(tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam
melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting dan disukai, mereka
tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak
takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin
tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda,
menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri,
keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam
mencapai tujuan mereka.
Thomas
Edison seperti yang dikutip oleh Utami Munandar mengatakan bahwa dalam
melakukan percobaan ia mengalami kegagalan lebih dari 200 kali, sebelum ia
berhasil dengan penemuan bola lampu yang bermakna bagi seluruh umat manusia.
Pribadi yang kreatif biasanya lebih teroganisasi dalam tindakan. Rencana
inovatif serta produk orisinal mereka telah dipikirkan dengan matang lebih
dahulu, dengan mempertimbangkan maslah yang mungkin timbul dan implikasinya.
(Utami Munandar, 2004: 35) Adapun ciri-ciri kreativitas ada (3) macam yaitu :
a. Kefasihan,
yaitu kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah terbuka (open ended) dengan
beberapa alternatif jawaban yang benar;
b. Fleksibilitas,
yaitu kemampuan siswa menyelesaikan masalah terbuka (open ended) dengan
beberapa cara;
c. Kebaruan,
yaitu kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah terbuka (open ended) dengan
beberapa jawaban yang berbeda tetapi bernilai benar dan satu jawaban yang
tidak biasa dilakukan siswa pada tahap perkembangan mereka atau tingkat
pengetahuannya. (Hamdani, 2002 : 4)
Menurut Guilford dikutip oleh Ahmad
Susanto bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri-ciri berfikir kreatif, yakni :
a. Kelancaran,
ialah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan;
b. Keluwesan,
ialah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan masalah;
c. Keaslian,
ialah kemampuan untuk memecahkan dengan cara yang asli;
d. Penguraian,
ialah kemampuan untuk menguraikan sesuatu dengan diperinci, secara jelas, dan
panjang lebar;
e. Perumusan
kembali, ialah kemampuanuntuk meninjau sesuatu persoalan berdasarkan persfektif
yang berbeda dengan apa yang telah diketahui oleh banyak orang. (Ahmad Susanto,
2011 hal : 117-118)
Menurut
Williams yang dikutip oleh Utami Munandar (Utami Munandar, 1999 : 88) ada dua
ciri-ciri kreativitas, yaitu :
a. Kognitif, yaitu kreativitas yang
berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif. Ada beberapa ciri-ciri
kreativitas ditinjau dari kognitif, yaitu :
-
Kemampuan berpikir secara lancar
(fluency);
-
Kemampuan berpikir luwes (flexibelity);
-
Kemampuaan berfikir orisinilitas;
-
Kemampuan menilai;
-
Kemampuan memperinci/mendalam
(elaboration).
b. Afektif, yaitu ciri-ciri afektif
dari kreativitas merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan sikap mental atau
perasaan individu. Ciri-ciri afektif ini saling berhubungan dan saling
mempengaruhi dengan ciri-ciri kognitif. Ada beberapa ciri-ciri afektif, yaitu:
-
Rasa ingin tahu;
-
Bersifat imajinatif;
-
Merasa tertantang oleh kemajemukan;
-
Sifat berani mengambil resiko (tidak
takut membuat kesalahan)
-
Sifat menghargai.
Dalam kaitannya dengan kreativitas
pada anak usia dini, Ihat Hatimah seperti dikutip oleh Ahmad Susanto
mengemukakan beberapa bentuk kretivitas pada anak usia dini, yaitu :
a. Gagasan/berpikir kreatif, yang
meliputi :
-
Berfikir luwes;
-
Berfikir orisinal;
-
Berpikir terperinci;
-
Berpikir menghubungkan.
b. Aspek sikap, yang meliputi
:
-
Rasa ingin tahu;
-
Ketersediaan untuk menjawab;
-
Keterbukaan;
-
Percaya diri;
-
Berani mengambil resiko.
c. Aspek karya, yang meliputi
:
-
Permainan;
-
Karangan. (Ahmad Susanto, 2011 :
121-122)
Biasanya
anak yang kreatif selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai
kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup
mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko
(tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam
melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting dasn disukai , mereka
tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak
takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin
tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda,
menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri,
keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam
mencapai tujuan mereka.
3.
FAKTOR
PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT KREATIVITAS
Kreativitas
merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam
mengembangkan kreativitas ini terdapat faktor-faktor yang mendudukung dalam
menumbuhkan kembangkan kreativitas juga ada faktor-faktor yang menghambat
kreativitas seorang anak.
1. Faktor
Pendukung Kreativitas
Pada
mulanya kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimiliki
individu tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya, dikemukakan bahwa
kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis tetapi membutuhkan
rangsangan dari lingkungan. Menurut Hurlock dikutip oleh Ahmad Susanto
mengemukakan beberapa faktor yang dapat mendorong dan meningkatkan kretivitas.
Antara lain :
-
Waktu, kegiatan anak seharusnya jangan
diatur sedemikian rupa, sehingga hanya sedikit waktu yang bisa mereka gunakan
untuk membuat suatu gagasan atau konsep;
-
Kesempatan menyendiri, hanya apabila
tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat menjadi kreatif;
-
Dorongan terlepas dari seberapa jauh
prestasi anak, maksudnya untuk menjadi anak yang kreatif mereka harus bebas
dari ejekan dan kritikan yang sering kali dilontarkan pada anak yang tidak
kreatif;
-
Sarana, sarana bermain atau sarana
lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi dan
eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua kreativitas;
-
Lingkungan yang merangsang, lingkungan
rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas anak;
-
Hubungan anak dan orang tua yang tidak
posesif, artinya orang tua yang tidak terlalu posesif akan mendorong
kemandirian anak;
-
Cara mendidik anak, mendidik anak secara
demokratis baik dirumah dan disekolah akan meningkatkan kreativitas anak;
-
Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan,
kreativitas tidak muncul dalam kehampaan. Makin banyak pengetahuan yang
dikuasai, maka semakin baik kreativitas anak. (Ahmad Susanto, 2012 : 124)
Utami
Munanadar mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mendukung kreativitas
adalah :
-
Usia;
-
Tingkat pendidikan orang tua;
-
Tersedianya fasilitas;
-
Penggunaan waktu luang
Selain
itu, ada (4) faktor pendukung pengembangan kreativitas anak, yaitu:
a) Rangsangan
mental, dengan memberikan motivasi, penguatan, dan menerima kekurangan dan
kelebihan anak, anak merasa percaya diri untuk mencoba, berinisiatif dan
berbuat sesuatu secara spontan;
b) Iklim
dan kondisi lingkungan, lingkungan yang kondusif akan mengembangkan kreatifitas
anak, seperti pencahayaan yang cukup, warna-warna yang cerah, terdapat
hiasan-hiasan dinding, musik, aroma;
c) Peran
guru, guru menjadi orang tua kedua bagi anak, sudah selayaknya guru memberikan
yang terbaik pada anak. Seperti guru melakukan inovasi-inovasi untuk
mengembangkan kreativitas anak;
d) Peran
orang tua, orang tua memiliki peranan yang penting terhadap pengembangan
kreativitas anak. Dengan menghargai setiap hasil karya anak, anak menjadi
berani dan percaya diri untuk belajar terhadap lingkungannya. (Pristina Kusuma,
12-11-2012)
2. Faktor
Penghambat Kreativitas
Menurut
Renzulli dalam Ahmad Susanto mengemukakan tiga ciri pokok yang saling terkait
serta merupakan kriteria atau persyaratan anak yang berbakat. Yaitu, kemampuan
umum, kreativita, dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi instrinsik.
(Ahmad Susanto, 2011 : 125) Dalam mengembangkan kreativitas, seorang dapat
mengalami berbagai hambatan, kendala atau rintangan yang dapat merusak dan
bahkan dapat mematikan kreativitasnya. Masalahnya ialah bahwa dalam upaya
membantu anak merealisasikan potensinya, sering kita menggunakan cara paksaan
agar mereka belajar. Penggunaan paksaan atau kekerasan tidak saja berarti bahwa
kita mengancam dengan hukuman atau memaksakan aturan-aturan, tetapi juga bila
kita memberikan hadiah atau pujian secara berlebih. Ada empat hal yang
mematikan kreativitas, yaitu:
a.
Evaluasi
Rogers dikutip oleh Utami Munandar
menekankan salah satu syarat untuk memupuk kreativitas konstruktif ialah bahwa
pendidik tidak memberikan evaluasi, atau paling tidak menunda pemberian
evaluasi sewaktu anak sedang asyik berkreasi. Bahkan menduga akan dievaluasi
pun dapat mengurangi kreativitas anak.(Utami Munandar, 2004 : 223) Selain itu
kritik atau penilaian sepositif apapun meskipun berupa pujian dapat membuat
anak kurang kreatif, jika pujian itu memusatkan perhatian pada harapan akan
dinilai.
b.
Hadiah
Kebanyakan orang percaya bahwa
memberi hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut. Ternyata
tidak demikian. Pemberian hadiah dapat merusak motivasi intrinsik dan mematikan
kreativitas.
c.
Persaingan (Kompetisi)
Kompetisi lebih kompleks daripada
pemberian evaluasi atau hadiah secara tersendiri, karena kompetisi meliputi
keduanya. Biasanya persaingan terjadi apabila siswa merasa bahwa pekerjaannya
akan dinilai terhadap pekerjaan siswa lain da bahwa yang terbaik akan menerima
hadiah. Hal ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sayangnya dapat
mematikan kreativitas.
d.
Lingkungan yang Membatasi
Belajar dan kreativitas tidak dapat
ditingkatkan dengan paksaan. Sebagai anak ia mempunyai pengalaman mengikuti
sekolah yang sangat menekankan pada disiplin dan hafalan semata-mata. Ia selalu
diberitahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan pada ujian
harus dapat mengulanginya dengan tepat, pengalaman yang baginya amat
menyakitkan dan menghilangkan minatnya terhadap ilmu, meskipun hanya utnuk
sementara. Padahal, sewaktu baru berumur lima tahun ia amat tertarik untuk
belajar ketika ayahnya menunjukkan kompas kepadanya. Contoh ini menunjukkan
bahwa jika berpikir dan belajar dipaksakan dalam lingkungan yang amat
membatasi, minat dan motivasi intrinsik dapat dirusak. (Utami Munandar, 2004 :
223-224)
Cropley dalam Ahmad Susanto mnegemukakan beberapa krakteristik guru yang
cenderung menghambat keterampilan berpikir kreatif anak, anatara lain :
-
Penekanan bahwa guru selalu benar;
-
Penekanan berlebihan pada hafalan;
-
Penekanan pada belajar secara mekanis;
-
Penekanan pada evaluasi eksternal;
ppenekanan secara ketat untuk menyelesaikan pekerjaan. (Ahmad Susanto, 2011 :
126)
Dalam
kehidupan sehari-hari banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan
berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap
menimbulkan efek kurang berkenan bagi orang tua. Misalnya orang tua melarang
anak merobek-robek kertas karena takut rumah jadi kotor, atau berteriak saat
anak main pasir karena takut anak terkena kuman. Padahal tiap anak memiliki
ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret,
beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan sebagainya.
Penyikapan orang tua seperti itu berarti merupakan salah satu contoh dari
sekian banyak faktor yang menghambat kreativitas seorang anak. (Hudiani Jannah,
12,11,2012).
4.
PERKEMBANGAN
KREATIVITAS ANAK
Hurlock
dikutip oleh Semiawan menegaskan bahwa hasil sejumlah studi kreativitas
menunjukkan bahwa perkembangan kreativitas mengikuti suatu pola yang dapat
diramalkan, ada sejumlah variasi di dalam pola ini. Demikian juga ada beberapa
faktor yang berpengaruh terhadap variasi-variasi tersebut. (Semiawan, 1999 :
96) Diantaranya :
a. Jenis kelamin
Anak-anak lelaki menunjukkan
kreativitas yang lebih tinggi daripada anak perempuan, terutama di masa-masa
perkembangan. Di sebagian masyarakat, anak lelaki mendapat perlakuan yang
berbeda dari anak perempuan. Anak lelaki mendapat kesempatan yang lebih banyak
daripada anak perempuan untuk hidup mandiri, lebih mendapat kesempatan untuk
menghadapi resiko, mendapatkan kesempatan dari orang tua dan guru untuk
berinisiatif dan menampilkan keasliannya.
b. Status sosio-ekonomi
Anak-anak yang berlatar belakang sosio-ekonomis
lebih tinggi cenderung lebih kreatif daripada anak-anak yang berlatar belakang
rendah. Kelompok pertama diduga mendapatkan perlakuan orangtua yang lebih
demokratis, sementara kelompok keduanya lebih banyak mendapat perlakuan
otoriter. Kontrol orangtua yang demokratis dapat memelihara kemampuan kreatif
dengan memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada anak untuk
mengekspresikan individualitasnya dan mengejar minat dan aktivitas menurut
pilihannya sendiri. Yang lebih penting lagi anak-anak yang berlatar belakang
ekonomi tinggi mendapat kesempatan yang lebih banyak utnuk mengakses
pengetahuan dan pengalaman yang diperluakan untuk mengembangkan kreativitas,
misalnya ke tempat-tempat rekreasi, tempat-tempat penting, dan pusat-pusat
informasi yang dapat mendorong anak-anak untuk berimajinasi serta berpikir dan
bertindak secara kreatif.
c. Posisi urutan kelahiran
Faktanya anak yang posisi kelahiran
berbeda menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Pernyataan ini memiliki
implikasi bahwa lingkungan memiliki kedudukan yang lebih penting dari pada
keturunan. Anak tengah dan anak bungsu memungkinkan lebih kreatif daripada anak
sulung. Anak sulung cenderung mendapat tekanan yang lebih besar untuk memenuhi
harapan orang tua daripada anak berikutnya.
d. Ukuran besar anggota keluarga
Anak-anak dari keluarga kecil
cenderung lebih kreatif daripada anak-anak dari keluarga besar. Hal ini
disebabkan oleh pengasuhan dalam keluarga besar menuntut sikap yang lebih
otoriter guna bisa mengendalikan anak yang banyak itu. Perlakuan yang otoriter
cenderung menghambat perkembangan kreativitas. Sebaliknya anak dari keluarga
kecil cenderung mendapat lebih banyak perlakuan yang demokratis. Sikap tersebut
memungkinkan bisa mendukung terciptanya suasana dan sikap yang mendukung untuk
pengembangan kreativitas.
e. lingkungan kota versus desa
Anak-anak dari lingkungan kota
cenderung lebih kreatif daripada anak-anak dari lingkungan desa, karena yang
pertama lebih banyak mendapatkan lingkungan yang lebih memberikan stimulasi
dalam pengembangan kreativitas. Di kota-kota lebih banyak tempat-tempat,
objek-objek, benda-beda, dan tantangan-tantangan yang mengundang setiap anak
untuk mengembangkan kemampuan kreatif.
f. Intelegensi
Untuk anak yang seusia, anak-anak
yang cerdas menunjukan kemampuan kreatif yang lebih dari pada anak-anak yang
kurang cerdas. Yang pertama cenderung memiliki ide-ide yang lebih baru ingin
mengatasi situasi konflik sosial dan mampu merumuskan lebih banyak alternatif
pemecahan terhadap konflik-konflik itu, juga beralasan bahwa anak-anak yang
cerdas pada akhirnya pantas dipilih sebagai pemimpin daripada anak-anak
seusianya.
5.
STRATEGI
PENGEMBANGAN KREATIVITAS
Pada
dasarnya setiap anak memiliki kecenderungan berbakat dalam kreativitas dan
memiliki kemampuan mengungkapkan dirinya secara kreatif, meskipun masing-masing
anak dalam bidang dan kadar potensi yang dimilikinya. Seperti yang diungkapkan
oleh Treffinger dalam Ahmad Suanto bahwa tidak ada anak yang sama sekali tidak
memiliki kreativitas. (Ahmad Susanto, 2011 : 128)
Peran
Guru Dalam Pengembangan Kreativitas Anak
Selama
di sekolah, guru mempunyai peran penting terhadap penyesuaian emosional dan
sosial anak dan terhadap perkembangan kepribadiannya. Sehubungan dengan
perkembangan intelektual, pada semua jenjang pendidikan guru merupakan kunci
kegiatan belajar siswa yang berhasil guna (efektif), terutama pada tingkat
sekolah dasar. Hal ini mudah dipahami karena di sekolah dasar umumnya seluruh
pelajaran dipegang oleh guru kelas, kecuali mingkin untuk pelajaran seperti Agama,
Olahraga, dan Kesenian yang menuntut keterampilan khusus dari guru.
Masalah
khusus yang berhubungan dengan pengajaran anak berbakat pada dasarnya merupakan
masalah bagaimana menghadapi perbedaan-perbedaan anak. Perbedaan dalam peran
guru berdasarkan ciri-ciri khas anak berbakat, yang terampil dalam situasi
belajar dan cara guru menangani ciri-ciri tersebut. Karena falsafah pendidikan
mengakui adanya perbedaan individual dan bertujuan mengembangkan bakat dan
kemampuan setiap anak didik secara optimal, maka dengan sendirinya kualifikasi
guru harus berbeda sesuai dengan sifat-sifat dan kemampuan anak didik.
Menurut
barbed and Renzulli dikutip oleh Utami Munandar, ada beberapa peran guru dalam
mengembangkan kreativitas anak. (Utami Munandar, 1999: 62) Diantaranya sebagai
berikut :
Pertama,
guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya
dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tapi juga bagaimana guru
melakukannya. Mustahil mengharapkan seseorang dapat memahami kebutuhan,
perasaan, dan perilaku orang lain, jika ia tidak mengenal diri sendiri. Kedua, di samping memahami diri sendiri,
guru perlu memiliki pengertian tentang keberbakatan. Oleh karena itu,
guru yang akan membina anak berbakat perlu memperoleh informasi dan pengalaman
mengenai keberbakatan, tentang apa yang diartikan tentang keberbakatan,
bagaimana cirri-ciri anak berbakat, dan dengan cara-cara apa saja kebutuhan
pendidikan anak berbakat dapat terpenuhi. Dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan
pendidikan anak berbakat, guru akan menyadari bahwa anak-anak ini memerlukan
pelayanan pendidikan khusus yang terletak di luar jangkauan kurikulum biasa. Ketiga, setelah anak berbakat
diidentifikasi, guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai
dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak. Sehubungan
dengan ini guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belajar
daripada sebagai instructor (pengajar) yang menentukan semuanya.
Strategi
4P dalam Pengembangan Kreativitas Anak
Sehubungan dengan pengembangan kreativitas, ada empat aspek yang dapat
diperhatikan, yaitu pribadi, pendorong, produk, dan proses. Dimana keempat
aspek ini lebih dikenal dengan istilah 4P. (Ahmad Susanto, 2011 : 128) Dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a) Pribadi,
kreatifitas adalah ungkapan keunikan individu dalam interaksi dengan
lingkungan. Dari pribadi yang unik inilah diharapkan timbul ide-ide baru dan
produk-produk yang inovatif.
b) Pendorong,
untuk mewujudkan bakat kreatif siswa diperlukan dorongan dan dukungan dari
lingkungan (motivasi eksternal) yang berupa apresiasi, dukungan, pemberian
penghargaan, pujian, insentif, dan dorongan dari dalam diri siswa sendiri
(motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu. Bakat kreatif dapat berkembang
dalam lingkungan yang mendukung, tetapi dapat pula dihambat dalam lingkungan
yang tidak mendukung. Banyak orang tua yang kurang menghargai kegiatan kreatif
anak mereka dan lebih memprioritaskan pencapaian prestasi akademik yang tinggi
dan memperoleh rangking tinggi dalam kelasnya.
c) Proses,
untuk mengembangkan kreativitas siswa, ia perlu diberi kesempatan untuk
bersibuk secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang siswa untuk
melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan kreatif. Untuk itu yang penting adalah
memberi kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif
d) Produk,
kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang bermakna
adalah kondisi pribadi dan lingkungan yaitu sejauh mana keduanya mendorong
seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan , kegiatan) kreatif.
Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa pendidik menghargai produk kreatifitas
anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain, misalnya dengan mempertunjukkan
atau memamerkan hasil karya anak. Ini akan lebih menggugah minat anak untuk
berkreasi.
Metode
Bermain
Bermain
merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini
memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Begitu pula dalam suasana
bermain aktif, dimana anak memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan
eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya, anak bebas mengekspresikan
gagasannya memalui khayalan, drama, bermain konstruktif, dan sebagainya. Maka
dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan pearasaan bebas secara
psikologis.
Rasa
aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya
kreativitas. Anak-anak diterima apa adanya, dihargai keunikannya, dan tidak
terlalu cepat di evaluasi, akan merasa aman secara psikologis. Begitu pula anak
yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. Keadaan bermain yang
demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. Bermain
memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Ia dapat
berekperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain
atau tidak. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik, ia
akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Kreativitas memberi anak
kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki
pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. Menjadi kreatif juga penting
artinya bagi anak usia dini, karena menambah bumbu dalam permainannya. Jika
kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan, mereka akan merasa
bahagia dan puas.
Layanan
pendidikan kepada anak-anak usia dini merupakan dasar yang sangat berpengaruh
terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga dewasa. Tahun-tahun awal
kehidupan anak merupakan dasar yang cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap
dan perilaku anak sepanjang hidupnya. Kreativitas merupakan salah satu
potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Setiap anak
memiliki bakat kreatif dan ditinjau dari segi pendidikan, bakat kreatif dapat
dikembangkan dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Bila bakat kreatif anak
tidak dipupuk maka bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan menjadi bakat
yang terpendam yang tidak dapat diwujudkan.
Melalui
proses pembelajaran dengan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak yaitu
melalui bermain, diharapkan dapat merangsang dan memupuk kreativitas anak
sesuai dengan potensi yang dimilikinya untuk pengembangan diri sejak usia dini.
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan
kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar.
Dalam proses pembelajaran di kelompok bermain, kreativitas anak dirangsang dan
dieksplorasi melalui kegiatan bermain sambil belajar sebab bermain merupakan
sifat alami anak. (Pristina Kusuma, 12-11-2012)
Diungkapkan
oleh Utami Munandar bahwa penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara
sikap bermain dan kreativitas. (Utami Munandar, 2004 : 94) Akan tetapi bermain
tanpa bimbingan dan arahan serta perencanaan lingkungan di mana anak belajar
akan membawa anak pada cara belajar yang salah atau proses belajar tidak akan
terjadi. Ia mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran, pendidik
bertanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan anak agar menjadi kreatif.
C.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan yang dilakukan terhadap masalah dalam makalah ini, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Kreativitas merupakan produk dari
berpikir kritis yang merupakan skill yang dibutuhkan sebagai kekuatan untuk
menunjang kesuksesan dunia kerja.
Model siklus belajar yang melatih
kreativitas terdiri atas 5 tahapan yaitu Exploring, Planning, Acting/Doing,
Communicating dan Reflecting.
Implementasi siklus belajar dalam
pembelajaran terintegrasi dalam rencana pelakasanaan pembelajaran yang
dikembangkan dengan berorientasi pada pengembangan kemampuan kreasi atau daya
cipta anak.
D.
SARAN
Sistem
pendidikan di Indonesia sudah seharusnya lebih mengutamakan pada pembentukan karakter
anak, terutama dalam pembentukan kreatifitas anak. Karena karakter berpikir
yang kreatif dan membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi
manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif.
E.
DAFTAR PUSTAKA
http://rudisiswoyo89.blogspot.com/2013/11/makalah-perkembangan-kreaktivitas-anak.html.
diakses pada hari senin, 3 Agustus 2015 pukul 15.20 wib