"Maah....Intan tanggal 22 Desember terima rapor, mama bisa kan ambil rapor kakak??" tanya si kakak di seberang telepon.. "kayaknya g bisa, kakak... mama kan tgl 12 kemaren udah dari babat (ada haul langitan....), ntar kasihan adek juga diajak riwa riwi..." jawabku lirih. "ya udah gak papa ma...biar mbahuti aja yang ambil" si kakak meyakinkan.
Yaah, beginilah kalau harus berjauhan dari anak. Tidak bisa concern mengikuti aktivitas anak. Kakak berada di Babat, sementara aku, ayah dan adik di Sarang. Keadaan itulah yang menjadikan aku sering riwa riwi Sarang-Babat. Jarak yang lumayan jauh...tepatnya ditempuh 2 jam perjalanan.. Tak jarang sebulan bisa sampai 2kali kami menengok Kakak di Babat.
Biasanya kami menempuhnya dengan naik bis jurusan Surabaya-Semarang, karena kami tidak usah capek2 ganti bis, tinggal naik langsung turun di jembatan Widang. Karena naik angkutan umum itulah terkadang kami mendapatkan bis yang nyaman, tapi sering pula naik bis yang (maaf) agak bobrok (kok bisaaaaa bis yang udah afkir kok masih juga jalan...), supirnya ugal2an pula. Ya memang gak bisa pilih2 sih, lha sedapatnya aja bis yang lewat. Kalo g gitu bisa lama nunggu bis yang lain...
Kebetulan pas kami ke Babat kemarin kami naik bis patas. Sebelum naik kami sempat ragu karena biasanya bis Patas itu tarifnya mahalnya minta ampyuuuun...bisa nyampe 70ribu/orang. Padahal kalo bis biasa cuma 14ribu/orang. Tapi kali ini bis Patas dengan tarif bawah, kami hanya merogoh kocek 15ribu saja per orang.. Sungguh murah dengan fasilitas bis yang nyaman. Ruang AC, kursi empuk, gak ada asap rokok (aku paling sebel kalo naik bis ada orang ngerokok...hufhhh...), dan supirnya pun tidak ugal2an. Alhamdulillah.... Perjalanan 2 jam sungguh tak terasa...
Naah...pas pulang dari Babat pun kami naik bis Patas. Namun bedanya kali ini tarifnya 20rb/orang. Tidak mengapalah daripada kami harus menunggu bis lama, karena waktu itu sudah hampir setengah jam kami menunggu bis.
Pulang pergi naik bis Patas sungguh terasa beda. Walaupun dengan tarif yang agak berbeda dari biasanya, tapi masih cukup terjangkau. Coba kalau semua angkutan umum (dalam hal ini khususnya bis) seperti itu semua. Dengan fasilitas yang nyaman, penumpang akan tenang dalam menempuh perjalanan. Kalau angkutan umum yang aman dan nyaman bisa tercipta, maka orang tak akan enggan naik angkutan umum. Kalau sudah begitu kendaraan pribadi pun berkurang, otomatis macet pun hilang.... Sungguh seharusnya masalah kemacetan yang sudah begitu kompleks bisa terselesaikan.
Tugas pemerintahlah agar semua itu segera terwujud, dan marilah kita tunggu saatnya Angkutan Impian menjadi nyata dan bisa kita nikmati bersama.....Semoga....